Oleh: Yusmin Muin
Kabinet Merah Putih telah dibentuk. Para menteri sebagai pembantu Presiden RI pun memiliki semangat baru dengan komitmen akan mendukung dan menguatkan kebijakan Presiden. Berbagai program dirancang oleh para menteri tanpa terkecuali Menteri Agama, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA yang melakukan inovasi melakukan transformasi di dalam tubuh Kementerian Agama.
Salah satu di antara inovasi Menteri Agama dilakukan dalam bidang pendidikan. Pada bidang ini, Menteri menggagas suatu konsep bahwa dalam mengimpelentasi kurikulum pendidikan di semua jenjang pendidikan dibutuhkan pendekatan yang berbasis cinta. Melalui pendekatan cinta dalam mentransfer ilmu pengetahuan, nilai kasih sayang dan harmoni akan tumbuh kuat dalam diri setiap pemelajar sebagai generasi Bangsa sehingga visi Indonesia Emas pada tahun 2045 dapat tercapai.
Meskipun sampai saat penulis berliterasi melalui media blog ini tentang konsep implementasi kurikulum pendidikan yang berbasis cinta masih sementara diuji publik, tetapi setidaknya terhadap siapapun tanpa terkecuali para praktisi pendidikan dapat terbentuk mindset-nya sejak awal secara epistemologis, ontologis, dan bahkan sampai dapat membekali secara aksiologis melalui draft konsep itu.
Melalui narasi literatif ini penulis mengungkapkan intisari dari konsep implementasi kurikulum yang berbasis cinta yang digagas oleh sang Menteri. Bahwa konsep tersebut dihadirkan sebagai respon terhadap tantangan global, khususnya dehumanisasi, intoleransi, dan konflik sosial. Dengan latar belakang keberagaman Indonesia, kurikulum ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kasih sayang, harmoni, dan toleransi sebagai bagian dari sistem pendidikan yang berkelanjutan. Pendidikan menjadi sarana utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moralitas tinggi dan sikap sosial yang inklusif.
Beberapa catatan simple penulis yakni sebagai berikut:
- Menanamkan nilai-nilai cinta dalam pendidikan madrasah.
- Memberikan strategi konkrit dalam implementasi pendidikan berbasis kasih sayang.
- Membantu guru mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam pembelajaran dan interaksi di madrasah.
2. Kurikulum ini menekankan pendidikan berbasis pengalaman, pengembangan karakter, serta keseimbangan aspek intelektual, emosional, dan sosial peserta didik.
3. Nilai-nilai utama dalam kurikulum ini meliputi:
- Cinta kepada Allah dan Rasulullah (melalui keimanan, ibadah, dan keteladanan).
- Cinta kepada diri sendiri (pengembangan karakter, akhlak terpuji, dan kepedulian diri).
- Cinta kepada sesama (toleransi, empati, dan menghargai keberagaman).
- Cinta kepada lingkungan (kesadaran menjaga alam sebagai amanah Allah).
- Cinta kepada bangsa dan negara (nasionalisme, meghargai kearifan lokal, serta persatuan).
4. Kurikulum ini berpijak pada prinsip 9K , yaitu: Keberagaman, Kebersamaan, Kekeluargaan, Kemandirian, Kesetaraan, Kebermanfaatan, Kejujuran, Keikhlasan, dan Kesinambungan.
5. Dalam implementasinya, Kurikulum Berbasis Cinta menggunakan berbagai pendekatan, seperti:
- Pembelajaran Reflektif (pembelajaran berbasis refleksi pengalaman).
- Multikultural (menanamkan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan).
- Partisipatif dan Kolaboratif (melibatkan siswa dan komunitas dalam pembelajaran).
- Humanistik dan Pendidikan Karakter (penguatan nilai moral dan empati).
- Integratif (menyelaraskan nilai-nilai cinta dalam semua mata pelajaran).
- Keteladanan (Qudwah) (guru dan tenaga pendidik sebagai teladan dalam menerapkan nilai-nilai cinta).
Pakkola, 9 Maret 2025
