Oleh: Yusmin Muin
Sebuah catatan singkat dari testimoni singkat atas kisah hidup Sang Annuanggurutta, Dr(HC). K.H. Nur Husain, BA yang disampaikan oleh Putra beliau, K.H. Muslih, Lc., M.Ag (Pimpinan Ponpes Ihya’ul Ulum DDI Baruga) pada Acara Haul atas Wafatnya Annuanggurutta.
Terucap maaf dari Penulis jika catatan ini tidak mencakup keseluruhan testimoni dari awal hingga selesai. Kesempatan Penulis tidak dimulai dari awal testimoni K.H. Muslih, Lc., M.Ag.
Catatan kisahnya Penulis mulai dari testimoni keberadan Annuanggurutta Al Maghfur lahu K.H. Dr.(HC) Nur Husain, BA saat di Makasar. Saat itu, beliau berkesempatan bertemu banyak guru. Beliau pernah memperlihatkan sertifikat leadership yang pernah diikutinya, semacam LDK yang senantiasa diadakan oleh Pondok Pesantren Ihya'ul Ulum DDI Baruga. Pada sertifikatnya tertulis Mumtaz. Tidak jelas kapan kegiatan itu diikuti, apakah masa mahasiswanya ataukah setelah masa itu.
Salah satu hal berat yang dialami oleh Annuanggurutta yaitu saat berada di Panti Asuhan di Makassar. Waktu itu tanpa diketahui jelas penyebabnya, Panti itu bubar (tutup: Penulis). Sehingga dikisahkan oleh Annuanggurutta saat itu keadaannya ibarat berada di atas sebuah kapal laut yang tenggelam. Penumpangnya tidak tahu akan terdampar di mana dan akan ke mana. Saat Panti bubar, beberapa dari penghuninya yang jelas keberadaan keluarganya diambil oleh keluarganya. Namun bagi mereka yang tidak jelas siapa yang akan mengambilnya menghadapi ketidakjelasan bahwa siapa yang akan mengambilnya sebagai anak angkat setelah itu. Walhasil, waktu itu satu keluarga yang dikenal dengan panggilan Bapaknya Ratnah (orangtua dari Hj. Darmi) mengajaknya untuk Bersama. Dalam masa kebersamaan dengan orangtua Hj. Dami itu Annuanggurutta menempah hidup mendapatkan pengajaran keyterampilan darinya sehingga memiliki beberapa keterampilan hidup (life-skill) seperti kemampuan menambal dan menyambung ban kendaraan. Demikian pula beliau juga dapat membuat ‘karajing’. Aktivitas ini dilakukan hingga saat kuliahnya. Namun, meskipun demikian sebagaimana pernah diungkapkan oleh orangtua Hj. Darmi bahwa Annuanggurutta kala itu sudah memiliki bakat kemampuan dakwah. Dikisahkan bahwa seringkali saat membuat ‘karajing’, Annuanggurutta sekaligus latihan berceramah/berdakwah. Dengan kemampuan berceramah itu, Annuanggurutta diundang ke beberapa tempat untuk itu. Bahkan saat pernah menjadi asisten Professor M. Quraish pernah meminjam celana untuk berangkat mengajar menggantikan Sang Professor.
Beliau memperlihatkan itu pada saya (KH. Muslih) agar dapat menjadi motivasi. Jadi selama di Makasar, Beliau benar-benar kesempatan bertemu banyak guru yang mumpuni seperti di anatarnya berguru ke Al Allamah K.H. Muhammad Nur, salah seorang ulama terkenal di Sulawesi Selatan pada waktu itu. Selain itu, Beliau (Annuanggurutta K.H. Nur Husain) termasuk berguru juga ke Al Marhum K.H. Muhammad Sanusi Baco, Lc (mantan Ketua Majelis Ulama Sulawesi Selatan. Termasuk juga pernah berguru kepada Prof. Dr. K.H. M. Quraish Shihab, MA. Bahkan Annuanggurutta pernah menjadi asistennya saat memberi kuliah di kabupaten Bulukumba.
Pasca meraih gelar sarjana muda (BA) yang bertepatan masa-masa itu juga kondisi sekolah di Baruga mengalami tantangan. Pada waktu itu keadaannya mengkhawatirkan. Ibarat keadaannya itu لا يموت ولا يحي (tidak mati, tetapi tidak juga hidup). Oleh karena keadaan itu, para Pengurus DDI di Baruga berkirim surat ke Annuanggurutta yang masih berada di Makassar. Inti surat yang dikirim itu berisi permintaan agar Annuanggurutta pulang kembali ke Baruga. Hal ini berulang beberapa kali namun tidak digubris oleh Annuanggurutta dengan dalih beliau bahwa jika ia pulang ke Baruga Ia tidak bisa berbuat apa karena tidak memiliki pekerjaan yang dapat dilakukannya. Oleh karena tidak efektifnya surat yang dikirim, maka diutuslah al maghfur lahu Drs. K.H. Abdul Djalil (Ayah dari pak Masjkur, S.Ag) untuk mengajak Annuanggurutta. Dalam proses mengajak itu, ada keunikan cara yang dilakukan yaitu diajaknya Annuanggurutta untuk berangkat untuk memesan jahit celana sekaligus berkeliling berkendara becak. Saat dalam perjalanan keliling berkendara becak itu, Annuanggurutta K.H. Abdul Djalil mengatakan kepada Annuanggurutta bahwa sudah saatnya Ia wajib pulang ke Baruga, bukan sunnat lagi status hukumnya. Jika tidak demikian maka sekolah yang ada di Baruga akan mati. Sesaat itu juga Annuanggurutta pun menanyakan kapan waktu kepulangannya.
Akhirnya dari situlah, beliau meninggalkan Makassar. Sementara perkuliahan beliau yang saat itu menuju penyelesaian S1 diinggalkannya dan kembali ke Baruga untuk mengurus berbagai hal-hal yang harus diselesaikan. Saat itu sekolah yang baru ada pertama itu Madrasah Tsanawiyah. Setelah Annuanggurutta memimpin dan berjalan normal, dibukalah juga madrasah Aliyah. Diterangkan oleh K.H. Muslih, Lc., M.Ag, mungkin murid angkatan pertama Annuangguruta waktu itu Pak Adam Shahid, alm. Abdul Jamil (orangtua dari Abd. Shabur, S.Sos.I), dan lebih banyak lainnya lagi. Jadi perjuangan beliau itu, memang tidak ringan untuk mengembalikan sekolah ini bisa berjalan dengan baik. Sejak tahun 40-an, sekolah ini sudah ada meskipun masih dalam status nama Sekolah Arabiyyah.
Terkait dengan kegiatan dakwah Annuggurutta, dikisihkan pula oleh Putranya, K.H. Muslih bahwa beberapa amanah dakwah/ceramah yang dilakukannya di beberapa tempat ditempuh dengan jalan kaki. Sebutlah misalnya daerah Asi-Asing, Simbang, Sibunoang-Segeri, maupun lainnya. Dalam perjalanannya, Annuanggurutta sering didampingi oleh Putranya, K.H. Muslih. Jika jadwalnya di bulan Puasa, keberangkatannya itu lebih awal yakni sehabis shalat Ashar karena biasanya buka puasa di tempat tujuan. Setelah ceramah dan shalat tarwih Annuanggurutta bersama pendamping pulang dengan berjalan kaki lagi.
Awal-awal Annuanggurutta diangkat jadi Imam, mungkin belum sampai 40 tahun atau tepatnya pada umur 37 tahun, waktu itu sekira itu tahun 1982, setelah mangkatnya Imam sebelumnya pada tahun 1980. Dalam interval waktu 2 tahun terjadi kekosongan Imam definitive namun tetap terdapat ‘caretaker’nya langsung dijabat oleh mertua Beliau Annuanggurutta To Massalama K.H. Abd. Hafidz. Selama masa itu tetap Annuanggurutta berkali-kali dimintai untuk menjadi Imam, tetapi tetap saja ditolaknya. Sampai-sampai kepala lingkungan pada saat itu yakni Almarhum Ahmad Saleh (orangtua Nurjamiat, S.Ag) mengancam dengan ultimatum bahwa Beliau pun akan mundur dari sebagai penjabat kepala lingkungan Baruga jika jabatan Imam lingkungan tersebut tetap ditolak oleh Annuanggurutta.
Beberapa testimoni atas prinsip hidup dari Annuanggurutta
Salah satunya, waktu itu beliau menitipkan bungkusan barang kecil saat Annuanggurutta ke Jakarta dan akan balik ke Baruga. Annuanggurutta dititipi barang itu oleh Putranya, KH. Muslih. Barang pun dibawa dan sempat menginap semalam di sebuah penginapan di Makassar dekat bandara Hasanuddin. Saat naik ke kendaraan tumpangan, barang titipan yang kecil itu tertinggal di penginapan. Annuanggurutta sadar setelah tiba di Baruga dan ditelepon oleh anak Beliau K.H. Muslih, Lc yang menanyakannya. Sejurus itu juga Annuangguruta mengontak pihak penginapan yang membenarkan bahwa ada barangnya yang tertinggal. Setelah tiba jelang subuh dan selesai shalat subuh, Annuanggurutta kembali berangkat menuju ke Makassar sekedar untuk mengambil barang kecil yang tertinggal itu. Bagi orang yang menganggap enteng hal seperti ini, mungkin dapat saja mengabaikannya sehingga mencari cara bagaimana agar tidak perlu Kembali ke Makassar untuk mengambilnya sendiri. Atas kisah ini, para santri dan siapapun yang membaca kisah ini dapat memetik pelajaran bahwa begitu pentingnya menjaga amanah.
Kisah lainnya, yaitu yang dialami oleh Putranya sendiri, sang Muslih kecil. Kisahnya agak lucu sehingga mengundang tawa para penyimaknya saat diceritakan, tapi dari kisah itu ada makna bagi kehidupan. Waktu itu dikisahkannya bahwa saat berumur anak-anak ia pernah memukul beduk penanda
waktu shalat di masjid. Peristiwa itu terdengar langsung oleh
Annuanggurutta sehingga secara spontanitas Annuanggurutta menuju masjid ingin
mencari tahu siapa yang melakukannya, padahal saat itu waktu shalat belum sampai. Setelah
Annuanggurutta mengetahui bahwa pelakunya adalah putranya sendiri, si Muslih
kecil, maka Annuanggurutta pun dengan motivasi ingin memberi pendidikan dan
pengajaran dengan penuh kasih sayang kepada putranya maka Beliau pun mengejar putranya itu. Si Muslih kecil pun melarikan diri sampai-sampai baru kembali pulang ke rumah setelah
malam tiba. Atas kejadian ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa setiap
orangtua dengan jabatan yang dimilikinya seharusnya berlaku adil dalam menegakkan
prinsip hidup. Hukuman itu berlaku untuk semua termasuk terhadap orang terdekat
sekalipun.
Demikian catatan singkat ini dari sebuah testimoni singkat.
Pakkola, 12 Mei 2025

