PENGARUH SHALAWAT KEPADA RASULULLAH BAGI YANG MENGUCAPKANNYA

Oleh: Yusmin Muin

Berbicara tentang shalawat apalagi jika kita ingin mengetahui pengaruhnya, maka ada banyak dalil yang dapat dijadikan sebagai dasar tentangnya. Namun sebelum lebih jauh membahas mengenai pengaruhnya ada baiknya diketahui lebih dahulu apa arti dari shalawat itu.

Istilah shalawat merupakan diksi yang bersumber dari bahasa Arab. Diksi ini sudah familiar bagi orang-orang Indonesia. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi ini ditulis dengan 2 (dua) varian bentuk kata dasar, yakni salawat dan selawat. Keduanya berarti 'do'a, permohonan doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya'. (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1389) Kata ini menjadi salah satu kata yang diadopsi dari bahasa Arab. Di dalam kamus Lisanul Arab bahwa diksi 'shalawat' merupakan bentuk nomina dari kata kerja صلا. Bentuk nomina-nya yaitu  صلاة  yang berarti shalat (ibadah yang terdiri dari gerakan ruku dan sujud). Selain itu, ia juga dapat berarti do'a dan permohonan ampunan (istighfar). Sedangkan jika shalawat itu dikaitkan dengan Allah SWT, maka ia berarti rahmat Allah, dan atau penghormatan kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ 

Maksud kata  يُصَلُّوْنَ dalam ayat tersebut dipahami dengan 'memberi penghormatan'. Sedangkan 

 

Sedangkan shalawat yang diungkapkan oleh para Malaikat kepada Rasulullah

PERNIK SINGKAT UPACARA HARI SANTRI 22 OKTOBER 2021

Oleh: Yusmin Muin

 

Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2021 tingkat provinsi Sulawesi Barat dilaksanakan oleh Kanwil Kementerian Agama Prov. Sulawesi Barat di Pondok Pesantren (Ponpes) Ihya'ul Ulum DDI Baruga. Dengan desain sederhana, Kanwil Kementerian Agama bekerjasama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene dan Ponpes Ihya'ul Ulum DDI Baruga melaksanakan peringatan hari santri. Kegiatan diawali dengan do'a dan dzikir bersama pada malam sebelum hari upacara di tempat yang sama tepatnya di lapangan terbuka ponpes. Pada pagi hari sebelum upacara berlangsung para santri bersama para Pembina Ponpes Ihya'ul Ulum menyambut para tamu peserta upacara. Ada beberapa unsur yang ikut ambil bagian pada upacara tersebut. Ada unsur ASN Kanwil Kementerian Agama Sulbar dan Kantor Kemenag Kab. Majene, para Pimpinan dan Pembina serta santri dari berbagai pesantren di kab. Majene, para mahasiswa KKN/PPL UIN Alauddin Makassar yang turut hadir, dan terkhusus para guru dan santri Ponpes Ihya'ul Ulum DDI Baruga. Mereka berjibaku dalam memberikan layanan sebagai tuan rumah kepada para tamu. Atas semua pengorbanan tulus tersebut, Pemerintah Daerah Kab. Majene melalui wakilnya pada malam Dzikir dan Doa Bersama memberikan anugerah istimewa kepada salah seorang santri berupa beasiswa selama satu tahun.

Salah satu moment yang paling penting dari pelaksanaan upacara kali ini yaitu pembacaan ikrar santri. Pembacaan ikrar santri dilakukan oleh salah seorang peserta upacara dari kalangan santri. Darinya penulis menyimak dengan seksama setiap kalimat yang dibacakan oleh santri dengan suara membahana sampai menghunjam relung hati sanubari penulis. Dari ikrar itu terdengar bahwa sebagai santri Negara kesatuan Republik Indonesia berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai, dan tradisi Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah. Santri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu bertanah air satu yaitu tanah air indonesia, berideologi negara satu, yaitu Pancasila, berkonstitusi satu yaitu Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945, dan berkebudayaan satu, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Berdasarkan ikrar tersebut, penulis dapat mengambil pelajaran bahwa menjadi seorang santri merupakan keniscayaan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia ini ia seharusnya memiliki komitmen secara penuh bahwa ideologi, konstitusi, identitas kebudayaannya dalam bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan ikrar lisan yang diucapkannya. Atau dengan istilah singkatnya adanya relevansi konsistensif antara perkataan, sikap, dan perbuatan.   

Sebagai pembina upacara, Menteri Agama RI menyampaikan amanahnya secara tertulis. Amanah tertulis itu dibacakan oleh Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, Dr. H. Muflih B. Fattah. Beberapa point penting dari amanah yang sempat dicatat oleh penulis yaitu bahwa hari santri yang ditetapkan oleh Presiden RI dan diperingati setiap tanggal 22 Oktober setiap tahunnya tidak lepas dari sebuah moment historis dan heroik. Resolusi jihad oleh KH. Hasyim Asy'ari telah menginspirasi anak-anak bangsa berikutnya dalam memperjuangkan eksistensi agama dan NKRI. Oleh karenanya, pemerintah memberikan apresiasi dengan menetapkan tanggal 22 Oktober pada tahun 2015 pertama sebagai hari santri.

Tahun 2021 ini, tema hari santri sebagaimana dibacakan oleh Kakanwil adalah 'Santri Siaga Jiwa Raga'. Berdasarkan catatan penulis, tema tersebut mengandung arti bahwa santri seyogyanya memiliki kesiagaan untuk menyerahkan jiwa dan raga dalam membela tanah air dan mempertahankan persatuan lndonesia serta ikut menjadi bagian dari orang-orang yang mewujudkan perdamaian dunia. Selanjutnya disampaikan pula bahwa siaga jiwa berarti bahwa santri tidak lengah dalam menjaga kesucian hati dan akhlak, berpegang teguh pada akidah, nilai, dan ajaran lslam sebagai rahmatan lil'alamin serta tradisi luhur bangsa lndonesia. Sedangkan siaga raga berarti badan, tubuh, tenaga, dan buah karya santri didedikasikan untuk lndonesia. Oleh karena itu, santri tidak pernah lelah dalam berusaha dan terus berkarya untuk lndonesia.

Jadi, siaga jiwa dan raga secara utuh merupakan komitmen hidup santri yang terbentuk dari tradisi pesantren. Para santri tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan dan akhlak, akan tetapi sekaligus juga melakukan tazkiyatun nafs, yaitu mensucikan jiwa dengan cara gemblengan dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait dengan kondisi deraan wabah pandemi covid-19, Menteri Agama dalam sambutan tertulisnya dibacakan pula oleh Kakanwil Kemenag Sulbar bahwa santri tidak boleh lengah dalam menjaga protokol kesehatan 5M dan 1D, yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas serta tidak melupakan permohonan doa agar pandemi covid-19 segera menjauh. Semuanya dapat terealisasi dengan penerapan pola hidup disiplin dan kehati-hatian.

Terbitnya Undang-undang 18 tahun 2019 tentang Pesantren merupakan bentuk apresiasi dan affirmasi Negara dan Pemerintah terhadap eksistensi pesantren. Ditambah lagi pada tahun 2021 ini diterbitkan pula Peraturan Presiden nomor 82 tahun 2021 tentang Pendanaan Penyelenggaraan Pondok Pesantren. Semuanya itu merupakan berkah yang harus disyukuri. Dan di akhir sambutannya, Menteri Agama menuliskan bahwa mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke merupakan suatu yang patut dilakukan. 

Bagian terakhir dari amanahnya, Kakanwil Kementerian Agama Prov. Sulawesi Barat menutupnya dengan menyampaikan bahwa seyogyanya kita senantiasa sering menjalin hubungan silaturrahim, kerjasama, dan koordinasi antar satu dengan yang lainnya agar terbangun kesepahaman dalam menghadapi segala sesuatu.

Demikian pernik singkat penulis. Semoga bermanfaat.



Menjadikan Menulis Sebagai Passion

Oleh: Yusmin Muin

Senin malam tanggal 4 Oktober 2021 merupakan awal para peserta Pelatihan Belajar Menulis PGRI Angkatan 22 menyimak materi yang disajikan oleh narasumber Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau dikenal dengan Ibu Kanjeng. Kegiatan ini dilaksanakan secara semi online melalui grup whatsapp yang dimoderatori oleh salah seorang blogger milenial, Maesaroh. Sebelum kegiatan pelatihan pada senin malam ini, sudah diawali dengan opening ceremony yang dilaksanakan dua malam sebelumnya atau tepatnya pada sabtu malam tanggal 4 oktober 2021. Pada opening ceremony, dijelaskan tata aturan pelatihan. Pada malam pertama pelatihan ini, sajian materi dibagi empat (4) segmen, yaitu (1) pembukaan; (2) penjabaran materi; (3) sesi tanya jawab; dan (4) penutup.

Moment pertama dimulai oleh moderator dengan sebuah jargon yang bagi penulis itu sangat berkesan yaitu kata 'ulama'. Oleh moderator disebutkan bahwa Ibu Kanjeng merupakan sosok 'ulama' yang berusia tua namun ternyata masih tetap aktif menghasilkan karya. Bagi penulis, istilah 'ulama' merupakan merupakan suatu diksi yang sudah tidak asing. Namun menjadi sesuatu yang unik dan berkesan setelah moderator menyebutkan bahwa diksi 'ulama' yang disebutkannya merupakan sebuah akronim dari istilah 'Usia Lanjut Masih Aktif' yang disingkat dengan 'Ulama'. Istilah inilah yang membuat penulis terkesan. Dan ini dialamatkan kepada Ibu Kanjeng sebagai seorang 'ulama' yang memiliki sumbangsih besar terhadap Negeri melalui ciptaan atau gubahan sajak-sajak literasinya yang memotivasi para generasi bangsa khususnya saya sebagai peserta pelatihan.

Sajian materi diawali oleh Ibu Kanjeng dengan sebuah pertanyaan "Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan?" Dijawab oleh beliau bahwa kemampuan menulis merupakan indikator intelektualitas dan kematangan dalam berpikir. Oleh karena itu, menurutnya profesi sebagai penulis merupakan salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial hingga saat ini.

Seseorang yang akan menjadi penulis pemula biasanya memiliki kendala dan hambatan dalam rangka aktivitas menulis. Beberapa kendala yang dihadapi yaitu munculnya perasaan bahwa dirinya tidak memiliki bakat untuk menulis. Begitu pula kendala yang dihadapi yaitu ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menulis, tidak memiliki ide yang dapat dituangkan dalam tulisan. Bahkan parahnya yaitu tidak mau dikritik atas kekeliruan-kekeliruan yang ditemukan. Satu lagi yang menjadi penghambat yaitu seseorang pada dasarnya memang tidak suka menulis.

Menurut Ibu Kanjeng, seorang penulis seharusnya mampu menyadarkan dirinya dengan sebuah kata tanya 'mengapa' agar dapat menemukan sebuah jawaban sebagai alasan mengapa ia menulis. Baginya, ada tiga pertanyaan yang erat kaitannya dengan aktivitas menulis dan merupakan alasannya untuk menulis. Ketiga pertanyaan itu yaitu:

1. Mengapa kita menulis;
2. Bagaimana cara kita menulis; dan
3. Kapan kita mulai menulis.

 Ketiga pertanyaan tersebut dikembangkan melalui tulisan dengan bermodalkan motivasi. Selain motivasi, seorang penulis perlu memiliki langkah-langkah atau kiat agar dapat menjadi penulis yang berhasil dengan baik. Langkah-langkahnya yaitu:

a. Membaca (read)
    Untuk menjadi penulis, seseorang perlu banyak membaca buku baik yang umum maupun spesifik sesuai dengan latar belakang akademik dan interest pribadi. 
b. Berdiskusi (discuss)
    Berdialektika tentang referensi bacaan sebagai bahan tulisan dengan orang lain dapat menjadi pemacu dan pemicu bagi munculnya ide dan gagasan
c. Melihat dan merasakan (look and feel)
    Melihat langsung sekaligus dapat merasakan mengenai bacaan di media dapat menghindarkan seorang penulis premis-premis bias.
d. Bersosialisasi (socialize)
    Pengetahuan, pengalaman, dan kisah dari orang lain dapat diperoleh dari proses sosialiasi secara intens dengan orang lain agar penulis memiliki bahan tulisan. Bahkan banyaknya komunitas menulis yang diikuti seseorang juga ikut menjadi penunjang agar dapat menjadi penulis yang berhasil dengan baik.

Selanjutnya terkait kegiatan penulisan, secara teknis penulis dapat memulai penulisannya dengan memperhatikan beberapa langkah sistematis yang perlu dipersiapkan. Adapun langkahnya, yaitu:

    (1)    Menggali dan menemukan gagasan/ide
             Kegiatan ini dilakukan cara mengamati kejadian atau peristiwa yang terjadi, berimajinasi, dan 
             melakukan kajian pustaka. Salah satu cara efektif untuk mempermudah proses penemuan ide, 
             dapat digunakan cara brainstorming.  
    (2)    Menentukan tujuan menulis, genre tulisan, dan target (sasaran) segmen pembaca.
             Sebagai contoh:
             Tujuan menulis yaitu memberikan informasi yang benar tentang kesehatan.
   Genre tulisannya yaitu tulisan populer.
   Segmen pembacanya yaitu orang tua (manula). Selain itu penulis juga perlu mempertimbangkan    segmentasi pasarnya (marketable)-nya.
    (3)    Menentukan topik
             Setelah penulis menentukan tujuannya menulis, maka langkah berikutnya yaitu menentukan topik. Misalnya, tujuan menulisnya yaitu memberikan informasi yang benar tentang kesehatan, maka topiknya dapat    
  

             

                             
    (3)    Menentukan topik
    (4)    Membuat outline
    (5)    Mengumpulkan bahan materi/buku.

  

 

       

 https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/16100057/jumlah-pengguna-internet-indonesia-2021-tembus-202-juta

BERLITERASI  DI ERA DIGITALISASI

Oleh: Yusmin Muin

Digitalisasi sangat identik dengan abad ke-21. Hampir semua lini kehidupan diwarnai dengan pola interaksi yang memafaatkan media digital. Adanya pola interaksi tersebut menjadikan respon manusia terhadapnya tidak seragam. Hal ini disebabkan kesiapan dan kemampuan manusia dalam meresponnya terdapat perbedaan. Para pakar membuat pemetaan generasi. Pemetaan itu dikenal dengan generasi X, Y dan Z. Bagi mereka yang hidup antara tahun enam puluhan ke bawah itu dipetakan sebagai generasi X. Sedangkan yang hidup di atas tahun enam puluhan hingga sembilan puluhan dipetakan sebagai generasi X. Dan yang terakhir generasi yang hidup di atas tahun sembilan puluhan hingga merupakan generasi Y. Ketiga jenis pemetaan generasi tersebut memiliki karakteristik masing-masing.

Generasi X sebagaimana disebutkan penulis tersebut merupakan generasi yang hidup sebelum perekembangan teknologi digital yang modern. Boleh dikatakan bahwa mereka ini belum menikmati kecanggihan teknologi. Sedangkan bagi generasi X, merupakan generasi transisi. Mereka hidup sebelum adanya perkembangan teknologi hingga munculnya generasi Z. Mereka masih dapat menikmati keberadaan teknologi modern, akan tetapi mereka perlu beradaptasi dalam pemanfaatannya. Sedangkan mereka yang hidup sebagai generasi Y merupakan generasi yang hidup setelah adanya perkembangan teknologi. Mereka lebih siap dalam menghadapi perkembangan teknologi. Kesiapan yang dimiliki oleh para generasi Y yang hidup pada abad 21 itu membuat mereka lebih dikenal dengan generasi abad mileni. Mereka ini merupakan generasi potensial yang dapat melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan negara Indonesia pada masa yang akan datang.

Sebuah hasil penelitian awal tahun 2021 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang aktif berinternet sebanyak 202,6 juta jiwa dari total jumlah penduduk Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa. Jika dipersentase, maka ada 73,7 persen penduduk yang aktif melakukan penetrasi melalui penggunaan internet. Menurut HootSuite dalam Kompas.com menyebutkan bahwa pengguna internet itu berumur kisaran 16 hingga 64 tahun diketahui memiliki beberapa perangkat elektronik yang berbeda, mulai dari telpon genggam (smartphone), PC, laptop, tablet, dan sebagainya. Dari berbagai jenis perangkat itu, jenis smartphone menjadi alat akses yang paling populer dibandingkan yang lainnya yang mencapai 96,4 persen dari total penduduk Indonesia. Atau dengan kata lain bahwa terdapat 195,3 juta jiwa pengakses internet dengan menggunakan alat smartphone (Kompas.com: 2021). Gambaran ini mengindikasikan bahwa media atau alat akses internet yang ada sangat disukai oleh penduduk Indonesia. Sesuatu yang jika disukai, maka akan sangat dekat dengan yang menyukainya.

Berdasarkan data tersebut, penulis berasumsi bahwa popularitas penggunaan smartphone yang tinggi indikatornya mungkin karena ia mudah dibawa dan lebih praktis penggunaannya dalam mengakses internet. Kapanpun dan di manapun ia dapat digunakan secara instant oleh pemiliknya untuk mengakses internet. Namun, dibalik itu ada satu pertanyaan yaitu bagaimana dampak dari penggunaan media digital bagi entitas manusia, baik sebagai individu maupun komunal?

Untuk menjawabnya, penulis akan mengangkat kasus faktual dan update bagi manusia sekarang termasuk di Indonesia yaitu wabah pandemi covid-19. Sejak triwulan pertama 2020 hingga sekarang wabah covid-19 masih tetap saja menimpa Indonesia. Meskipun para korban terpapar sudah mulai menurun, akan tetapi masih saja ada informasi korban terdeteksi sehingga masih diberlakukan pembatasan-pembatasan aktivitas manusia melalui penerapan protokol kesehatan. Adanya pembatasan berkegiatan pada ruang-ruang publik, membuat rakyat kewalahan. Hal ini sangat dirasakan oleh para praktisi pendidikan pada jenjang pendidikan. Wabah pandemi covid-19 membuat mereka diarahkan untuk mendesain pembelajaran dari yang sebelumnya normal dengan tatap muka 

 



MERINTIS PROGRAM MENGHARAP BERKAH

Oleh: Yusmin Muin

Sabtu malam, kami sekeluarga yang tergabung dalam sebuah grup whatsapp (WAG) yang diberi nama Hj. Munirah Muin Family melaksanakan rapat sederhana untuk membicarakan sebuah rencana yaitu Program Tahfidz al Qur'an khusus untuk anggota grup WAG tersebut. Program ini direncanakan beberapa waktu sebelumnya yang terinspirasi dari masifnya upaya kalangan muslim mendirikan rumah-rumah tahfidz al Qur'an. Meskipun dalam benak penulis bahwa rencana yang akan dirintis ini tidak akan mampu menyamai apalagi melebihi keberhasilan rumah-rumah tahfidz dengan segala macam programnya yang komplit dan terstruktur dalam upaya pembinaan hafalan, akan tetapi setidaknya melalui upaya rintisan oleh keluarga kami yang tergabung di dalam WAG tersebut dapat ikut andil memelihara al Qur'an sebagai kitab suci umat Islam. Tentunya dengan upaya ini juga diharapkan ada nilai lebih yang diperoleh oleh semua anggota keluarga dalam rangka keselamatan dan kesejahteraan hidup dunia dan akhirat. 

Rencana awalnya rapat akan dilaksanakan setelah shalat maghrib, tapi karena beberapa anggota keluarga belum dapat bergabung pada saat itu sehingga rapat diundur. Rapat dimulai kembali setelah shalat isya' lebih tepatnya pada pukul dua puluh satu waktu Indonesia bagian tengah. Rapat dilaksanakan secara virtual melalui fitur akun google meet yang link akunnya dibuat oleh Dinda Wahyu alias bapak Dzakiy. Saat rapat,

BERDAYA DI ERA LITERASI DIGITAL

 BERDAYA DI ERA LITERASI DIGITAL

Oleh: Yusmin Muin

    Wabah pandemi covid-19 hingga kini belum berakhir. Berita mengenai orang yang terpapar, orang sedang menjalani perawatan, yang sembuh, dan bahkan yang meninggal dunia masih tetap menghiasi media pemberitaan baik internasional maupun nasional. Keadaan ini mengubah tatanan kehidupan massyarakat dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Di saat derita wabah, masyarakat dituntut untuk tetap berkinerja walaupun dengan pembatasan-pembatasan dalam mobilitasnya. Masyarakat dalam berkinerja masih tetap diharuskan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar menghindari wabah ataupun setidaknya meminimalisasi kemungkinan paparan wabah covid-19. Upaya ini tentunya sangat erat dengan aktivitas mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan membatasi mobilitas. Bahkan yang terakhir ditambah lagi dua hal terbaru yang diupayakan yakni memperbanyak doa dan melakukan vaksinasi bagi orang-orang yang secara medis memungkinkan untuk melaksanakannya.

    Salah satu kondisi yang dialami di Indonesia saat ini yaitu adanya pembatasan ruang gerak pada sektor pendidikan. Pembatasan itu berdampak kepada sistem pendidikan di Indonesia. Adanya perubahan di dalam mendesaian kurikulum sebagai tatanan baru yang adaptif terhadap kondisi merupakan keniscayaan. Pengaturan-pengaturan teknis pembelajaran yang tercermin melalui kurikulum darurat masa pandemi covid-19 merupakan solusi adaptif agar pendidikan dapat tetap berjalan di tengah terpaan wabah pandemi covid-19.

    Salah satu keharusan yang dialami dalam tata kelola pendidikan pada masa pandemi covid-19 yaitu pelaksanaan pembelajaran yang tidak dilaksanakan di ruang-ruang kelas satuan pendidikan. Pelaksanaannya dilakukan pendekatan secara syncronouze dalam jaringan internet. Namun jika tidak dapat dilaksanakan seperti itu maka dilaksanakan alternatif lainnya yaitu asyncronouze di luar jaringan internet (luring) dengan cara pedampingan pembelajaran melalui kunjungan terhadap rumah-rumah peserta didik. Dalam perjalanannya, kedua pendekatan tersebut memiliki kendala yang dirasakan oleh para tenaga pendidik. Bagi yang melakukan dengan memanfaatkan jaringan internet ditemukan kendala bahwa tidak semua peserta didik memiliki akses jaringan internet. Demikian pula banyak dari mereka memiliki perangkat yang menunjang untuk akses walaupun mereka berada pada zona yang ada jaringan internetnya.

   Salah satu hal faktual sekarang yang dialami manusia adalah bahwa manusia hidup pada suatu era yang hampir dapat dikatakan semua aspek kehidupan serba digitalisasi. Ini dikenal dengan era mileni. Pada era ini, generasi muda yang disebut dengan generasi Y merupakan generasi potensial  

 

LIBUR (GURU) MADRASAH

Oleh: Yusmin Muin                    Libur merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari setiap orang. Siapapun ia dan apapun aktivitasn...