Oleh: Yusmin Muin
Selasa sore, 9 september 2025 atau bertepatan dengan 16 rabi' al awwal 1447 dalam penanggalan Hijriyah seorang Annuangguru telah kembali ke sisi Allah setelah sebelumnya selama hampir satu abad ruh-Nya menemani jasad seorang hamba-Nya yang dikenal dengan Annuangguru KH. Hasan Usi RA. Almarhum kembali kepada Allah sekira pukul 16.00 WITA pada hari selasa yang sama harinya dengan beberapa Wali Allah, dan pada bulan rabi' al awwal yang dikenal dengan bulan Maulid Rasulullah SAW. Sudah diketahui oleh banyak masyarakat bahwa Beliau merupakan salah seorang murid dari mursyid Thariqah Qadiriyyah yang ada di Sulawesi Barat yakni Annuangguru K.H. Muhammad Saleh yang merupakan orangtua dari Annuangguru K.H. Dr. Ilham Saleh, Lc., M.Ag.
Sejak kemarin langit kota Majene dihiasi dengan awan mendung dan tersirami dengan hujan yang agak deras namun tidak lama. Bahkan 2 hingga 3 hari sebelumnya pun tanah kota Majene mendapatkan guyuran hujan itu. Demikian pula hingga hari rabu ini saat jelang Annuangguru akan pindah dan beristirahat di salah satu tempat dari taman-taman syurga Allah, langit di sekitar Majene dalam keadaan mendung dihiasi rintik hujan. Bagi Penulis, ini merupakan respon alam semesta sebagai tanda turut berdukanya bahwa salah seorang wali Allah telah meninggalkan dunia untuk menemui Allah SWT. Tak dipungkiri pula bahwa rasa duka ini pun dialami oleh orang-orang yang mencintainya dengan rintih tangis yang terdengar lirih di antara mereka yang hadir di rumah duka. Duka alam semesta dengan penampakan mendung dan hujannya serta tangis para pencintanya itu pada hakikatnya bukanlah bentuk penolakan terhadap takdir Allah, akan tetapi karena mereka merasakan bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk bersua secara jismaniyyah dengannya untuk memberikan petuah-petuah tentang bagaimana menghadapi hidup dan kehidupan dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT.
Saat acara pelepasan almarhum rabu 10 september, ta'ziyah singkat disampaikan oleh Wakil Gubernur Sulbar, Jenderal (Purn) S. Salim S. Mengga. Dalam pesannya, Beliau menyampaikan pesan Rasulullah yang terdiri atas 3. Ketiganya itu berkaitan dengan pesan bahwa jika umatnya menghadapi suatu keadaan di mana mereka ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya menghadap Allah SWT, maka ada tiga amalan yang dapat dilakukannya, yaitu: mendoakannya, menjaga hubungan silaturrahim dengan karib kerabatnya, dan senantiasa menjaga amanah yang pernah disampaikan kepadanya.
Sesaat setelah proses pemakaman Annuangguru selesai, para pecinta Annuangguru berangsur kembali ke masing-masing daerah mukimnya. Makam Annuangguru pun mulai mosong dari kerumunan orang. Moment ini dimanfaatkan oleh Penulis untuk menyempatkan diri melakukan amaliyah tahlilan dan berkirim doa. Pada saat amaliyah tersebut, ada salah satu yang menarik dan membuat penasaran bagi Penulis yaitu dua batu nisan yang ada di makam Annuangguru. Tampak terlihat bahwa batu nisan tersebut unik dan berbeda dari umumnya batu nisan yang digunakan pada setiap makam baru yang ada sekarang. Penulis memperkirakan bahwa batu itu jika dilihat, asli hasil dari proses alami, bukan dari hasil rekayasa tangan manusia. Itu terlihat dari bentuknya yang tidak benar-benar simetris dan beraturan. Tampak terlihat bahwa batu itu dari bongkahan batu padat dan sangat keras serta berat.
Setelah selesai beramaliyah tahlilan dan doa, Penulis pun hendak beranjak meninggalkan makam, tanpa tersadari ada salah seorang pencinta Annuangguru yang menyimak Penulis saat beramaliyah. Seakan beliau memahami perasaan hati Penulis tentang keunikan batu nisan tersebut. Beliau pun bercerita tentang batu itu. Tidak lama berselang muncul juga seorang sahabat Penulis. Seorang sahabat sesama santri di salah satu Pondok Pesantren di Majene, dan ternyata beliau itu murid Annuangguru. Pada moment itu, tanpa didahului pertanyaan dari Penulis, sang sahabat pun langsung berkisah perihal batu nisan. Penulis tersadar bahwa sahabat itu seakan Ia diarahkan untuk memberikan jawaban terhadap apa yang terbetik di hati Penulis tentang keunikan batu nisan yang ada itu. Semuanya terjawab melalui penjelasannya. Dan Penulis yakin bahwa moment itu adalah takdir Allah SWT.
Menurut penuturan sahabat Penulis itu bahwa batu tersebut berasal dari Poniang yang merupakan tempat asal dan berdomisilinya hingga kini. Diceritakan bahwa batu itu berada di atas ketinggian bukit yang terletak di dalam gua kecil. Tepatnya di salah satu kebun milik orangtua sahabat Penulis yang ternyata merupakan murid Annuangguru. Ditambahkan pula bahwa batu itu tidak pernah dijamah atau dipermak sedemikian rupa oleh seseorang termasuk oleh pemilik kebun sendiri. Mereka justru bingung saat diceritakan oleh Annuangguru perihal batu itu.
Dikisahkan bahwa Annuangguru pernah berpesan tentang batu nisan tersebut. Beliau menyampaikan kepada muridnya bahwa ada dua buah batu di atas bukit Poniang dan terletak di dalam gua kecil. Batu itu perlu diambil dan diturunkan kelak saat Annuangguru berpulang menemui Allah SWT untuk dijadikan sebagai nisan makamnya. Setelah moment itu, si murid sesuai dengan pesan Annuangguru mencoba mencari tahu posisi batu tersebut. Mereka penasaran dengannya karena mereka belum mengetahui sama sekali perihal batu dan letaknya. Setelah menemukannya, para murid mendiamkannya dalam hitungan tahun sampai terdengar kabar bahwa Annuangguru telah kembali keharibaan Allah. Dua batu itupun diturunkan. Dalam proses penurunannya, dirasakan agak sulit karena letaknya di tempat ketinggian dan batunya pun memiliki beban yang berat. Namun, demi khidmat kepada Sang Annuangguru, mereka melakukannya dengan tulus.
Hal yang menakjubkan yang dirasakan oleh Penulis setelah mendengarkan kisah tentang batu itu adalah bahwa Annuangguru tidak pernah menjangkau tempat di mana batu itu terletak. Akan tetapi Beliau dapat mengetahui dan menggambarkannya kepada para muridnya. Ma sya Allah!! Bagi penulis, itu di luar dari biasanya. Inilah mungkin yang disebut bahwa seorang wali Allah dapat menembus segala hijab yang menghalangi indera manusia biasa. Wali Allah atas izin Allah sebagai kekasihnya diberi keistimewaan untuk mampu mengetahui sesuatu yang gaib bagi manusia awam. Bahkan seorang Wali Allah pun dapat menundukkan alam atas izin-Nya. Singkat kata, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berbuat dengan Maha Kehendak-Nya. Hal-hal seperti demikian tidak dapat diukur dengan analisis matematika yang rasional karena ia merupakan domain aspek keimanan.
Subhanallah... ma sya Allah... wa la hawla wa la quwwata illa billah
Demikian. Semoga manfaat.

.jpeg)

