Menjadikan Menulis Sebagai Passion
Oleh: Yusmin Muin
Senin malam tanggal 4 Oktober 2021 merupakan awal para peserta Pelatihan Belajar Menulis PGRI Angkatan 22 menyimak materi yang disajikan oleh narasumber Ibu Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau dikenal dengan Ibu Kanjeng. Kegiatan ini dilaksanakan secara semi online melalui grup whatsapp yang dimoderatori oleh salah seorang blogger milenial, Maesaroh. Sebelum kegiatan pelatihan pada senin malam ini, sudah diawali dengan opening ceremony yang dilaksanakan dua malam sebelumnya atau tepatnya pada sabtu malam tanggal 4 oktober 2021. Pada opening ceremony, dijelaskan tata aturan pelatihan. Pada malam pertama pelatihan ini, sajian materi dibagi empat (4) segmen, yaitu (1) pembukaan; (2) penjabaran materi; (3) sesi tanya jawab; dan (4) penutup.
Moment pertama dimulai oleh moderator dengan sebuah jargon yang bagi penulis itu sangat berkesan yaitu kata 'ulama'. Oleh moderator disebutkan bahwa Ibu Kanjeng merupakan sosok 'ulama' yang berusia tua namun ternyata masih tetap aktif menghasilkan karya. Bagi penulis, istilah 'ulama' merupakan merupakan suatu diksi yang sudah tidak asing. Namun menjadi sesuatu yang unik dan berkesan setelah moderator menyebutkan bahwa diksi 'ulama' yang disebutkannya merupakan sebuah akronim dari istilah 'Usia Lanjut Masih Aktif' yang disingkat dengan 'Ulama'. Istilah inilah yang membuat penulis terkesan. Dan ini dialamatkan kepada Ibu Kanjeng sebagai seorang 'ulama' yang memiliki sumbangsih besar terhadap Negeri melalui ciptaan atau gubahan sajak-sajak literasinya yang memotivasi para generasi bangsa khususnya saya sebagai peserta pelatihan.
Sajian materi diawali oleh Ibu Kanjeng dengan sebuah pertanyaan "Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan?" Dijawab oleh beliau bahwa kemampuan menulis merupakan indikator intelektualitas dan kematangan dalam berpikir. Oleh karena itu, menurutnya profesi sebagai penulis merupakan salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial hingga saat ini.
Seseorang yang akan menjadi penulis pemula biasanya memiliki kendala dan hambatan dalam rangka aktivitas menulis. Beberapa kendala yang dihadapi yaitu munculnya perasaan bahwa dirinya tidak memiliki bakat untuk menulis. Begitu pula kendala yang dihadapi yaitu ia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menulis, tidak memiliki ide yang dapat dituangkan dalam tulisan. Bahkan parahnya yaitu tidak mau dikritik atas kekeliruan-kekeliruan yang ditemukan. Satu lagi yang menjadi penghambat yaitu seseorang pada dasarnya memang tidak suka menulis.
Menurut Ibu Kanjeng, seorang penulis seharusnya mampu menyadarkan dirinya dengan sebuah kata tanya 'mengapa' agar dapat menemukan sebuah jawaban sebagai alasan mengapa ia menulis. Baginya, ada tiga pertanyaan yang erat kaitannya dengan aktivitas menulis dan merupakan alasannya untuk menulis. Ketiga pertanyaan itu yaitu:
Ketiga pertanyaan tersebut dikembangkan melalui tulisan dengan bermodalkan motivasi. Selain motivasi, seorang penulis perlu memiliki langkah-langkah atau kiat agar dapat menjadi penulis yang berhasil dengan baik. Langkah-langkahnya yaitu:
Selanjutnya terkait kegiatan penulisan, secara teknis penulis dapat memulai penulisannya dengan memperhatikan beberapa langkah sistematis yang perlu dipersiapkan. Adapun langkahnya, yaitu:
(1) Menggali dan menemukan gagasan/ideKegiatan ini dilakukan cara mengamati kejadian atau peristiwa yang terjadi, berimajinasi, dan
melakukan kajian pustaka. Salah satu cara efektif untuk mempermudah proses penemuan ide,
dapat digunakan cara brainstorming.
(2) Menentukan tujuan menulis, genre tulisan, dan target (sasaran) segmen pembaca.
Sebagai contoh:
Tujuan menulis yaitu memberikan informasi yang benar tentang kesehatan.
Genre tulisannya yaitu tulisan populer.
Segmen pembacanya yaitu orang tua (manula). Selain itu penulis juga perlu mempertimbangkan segmentasi pasarnya (marketable)-nya.
(3) Menentukan topik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar